Ceritaku Tentang Tradisi Kemaliq
Halo semua! Perkenalkan namaku Alana Putri Hujan, orang-orang biasa memanggilku dengan nama Lana. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan semester 4 di perguruan tinggi Universitas Mataram. Di universitas ini aku mengambil salah satu jurusan yang sangat aku inginkan yaitu pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, tentu kalian mengetahui bukan bahwa jurusan ini termasuk ke dalam fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Dalam jurusan ini ada salah satu mata kuliah yang mengharuskan aku dan kelompokku untuk pergi observasi ke suatu kampung dengan tujuan mengetahui apa saja tradisi yang ada disana.
Beberapa hari kemudian, aku dan teman-teman kelompokku
pergi ke suatu kampung di desa yang bernama ranget daerah narmada. Aku dan
teman-teman pergi kesana menggunakan motor. Sesampainya disana kami bertemu
dengan salah satu orang yang memang mengetahui apa saja tradisi yang ada disana
dan salah satunya adalah tradisi kemaliq.
“kalau boleh kami
mahasiswi dari Universitas Mataram ingin mewawancarai bapak tentang tradisi
kemaliq ini” kata salah satu temanku yang bernama Almira.
“Tentu saja boleh,
karena kebetulan saya juga merupakan keturuna ke-5 dari para leluhur yang
memang berkaitan langsung dengan tradisi kemaliq ini” kata bapak tersebut yang
akhirnya namanya ketahui yaitu bapak Septori Wirawan.
“Tradisi kemaliq ini
sudah ada sejak lama, tradisi ini merupakan peninggalan para leluhur. Kemaliq itu
sendiri adalah prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh leluhur untuk menjadi
bukti bahwa memang para leluhur beragama islam. Contoh peninggalan besar
kemaliq yaitu masjid adat bayan yang dimana ketika kesana kita tidak boleh
berniat buruk” bapak Septori Wirawan menceritakan kami dengan panjang lebar
hingga akhir pak Septori Wirawan kembali dengan sebuah buku ditangannya.
“Saya akan membacakan
kalian beberapa kalimat yang ada di buku ini, di dalam buku ini diceritakan bahwa
kemaliq terbesar yang ada di dunia adalah ka’bah. Saat
akan berangkat ke tanah suci kita juga harus mempunyai niat yang baik dan tidak
ditujukan untuk sekedar bermain-main yang nantinya jika melakukan haji atau
umroh tidak akan mabrur”.
Tak terasa waktupun terasa berlalu begitu cepat, setelah
menceritakan kami tentang tardisi kemaliq itu secara panjang lebar yang
akhirnya membuat kami semua sedikit mengetahui darimana asal mula kemaliq dan
sejarah bagaimana kemaliq itu bisa ada. Kami pun menangkap beberapa hal tentang
kesimpulan tradisi kemaliq.
“Tradisi
kemaliq yang ada di desa ranget daerah narmada ini merupakan peninggalan para
leluhur sebagai bukti bahwa mereka adalah orang islam juga bagian dari bukti
sejarah bahwa sejak zaman dahulu orang-orang sudah banyak memeluk agama islam.
Mereka juga menjalankan ibadah sebagaimana mestinya bahkan hingga kini para
keturunannya termasuk pak Septori Wirawan masih terus mempertahankan budaya
tersebut agar tidak hilang atau luntur dan identitas sasak itu sendiri terus
terjaga sampai kapanpun”.
Luar biasaaa
BalasHapusKeren, semangatt
BalasHapusWahh ceritanya bagusss😍
BalasHapuscerpennya bgus
BalasHapus