Tradisi Kemaliq di Sasak Lombok

    Menurut keturunan ke-5 yang ada di Lombok tepatnya desa ranget daerah narmada kemaliq itu sendiri adalah prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh leluhur untuk menjadi bukti bahwa memang para leluhur beragama islam. Contoh peninggalan besar kemaliq yaitu masjid adat bayan yang dimana ketika kesana kita tidak boleh berniat buruk. Dalam buku kemaliq yang dibacakan oleh bapak Septori Wirawan yang merupakan keturunan ke-5 tersebut menyatakan bahwa kemaliq terbesar yang ada di dunia adalah ka’bah, saat akan berangkat ke tanah suci kita juga harus mempunyai niat yang baik dan tidak ditujukan untuk sekedar bermain-main yang nantinya jika melakukan haji atau umroh tidak akan mabrur. Begitu juga hal tersebut berlaku saat mengunjungi masjid adat bayan.

     Berbicara tentang kemaliq maka kita juga berbicara tentang suku dan budaya. Menurut suku dan budaya kemaliq hanya ada di sasak Lombok dan tidak terdapat di wilayah lainnya karena bisa saja wilayah-wilayah lain mempunyai tradisinya sendiri dan tidak sama dengan yang ada di Lombok. Namun, bagaimanapun tradisi yang ada di setiap daerah pasti mempunyai dasar tujuan akidah yang baik yang tidak bertujuan untuk menyalahi agama. Pak Septori Wirawan juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan saat ini untuk mempertahankan budaya sasak yang telah ada sejak zaman para leluhur. Adapun hal yang berkaitan dengan ranget yaitu suatu kampung yang ada di daerah narmada yang juga kebanyakan saat ini terdapat pura di dalamnya. Pak Septori Wirawan sendiri mengatakan bahwa kemaliq berarti simbol sebuah komunitas dimana jika terjadi sesuatu terhadap kemaliq itu sendiri ia tidak akan diam saja dan pastinya akan terus berusaha mempertahankan tradisi tersebut.

     Selain pak Septori Wirawan yang merupakan keturunan ke-5 juga sampai sekarang sudah ada hingga keturunan ke-7. Pada tahun 1800-an kemaliq dijadikan tempat bertafakur oleh para leluhur dan hingga kini di beberapa titik kemaliq yang ada di sasak sudah banyak dikuasai oleh orang luar. Namun, itu semua tidak menjadikan tradisi kemaliq hilang begitu saja, para keturunan terus mencoba mempertahankan tradisi tersebut dan bahkan hingga kini setiap trah atau keturunan masih saling menyambung tali silahturahmi pada hari ritual kemaliq dengan berbagai macam acara yang terdapat di dalamnya yaitu acara bubur beaq dan bubur puteq (bubur merah dan bubur putih), maulid adat dan acara ritual lainnya.

 

     Tradisi kemaliq ini sudah sangat lama adanya di desa ranget namun tempatnya sempat banyak di kuasai oleh orang luar hingga kemudian pak Septori Wirawan yang merupakan keturunan ke-5 juga sekaligus sebagai kepala dusun daerah tersebut mencoba menghidupkan kembali tradisi tersebut agar tidak hilang karena merupakan bukti-bukti nyata tradisi kemaliq itu sendiri. Tradisi kemaliq juga bisa dikatakan bagian dari bukti sejarah dan apabila bukti-bukti sejarah itu dihilangkan kita akan kehilangan identitas sasak karena kemaliq merupakan tradisi yang hanya dimiliki oleh orang sasak. Selain mencoba mempertahankan bukti sejarah tersebut agar tidak hilang, pak Septori Wirawan juga turun langsung dalam mengelola dan mempelajari lebih dalam tentang tradisi tersebut dengan memelihara kembali agar tradisi yang sudah ada tidak luntur begitu saja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemaliq Ranget

Ceritaku Tentang Tradisi Kemaliq